Jumat, 28 September 2018

Dear No One

Dear No One,

To whom I would like to share this post in the future,
To that one person, I call "dear husband".
From no one to my every breathe.


Dear suami,
Belum belum, waktu nulis ini, kita masih berjauhan.
Mungkin, bisa jadi kita belum saling mengenal,
Atau mungkin kamu itu dia? Atau,
Entah siapapun kamu yang memperistriku.

Kuharap, kamu menemukan tulisan ini, tanpa melaluiku
(kalo keponya pinter ya, haha)
(and if you feel that i am something to your world, I think, you'll find out this post faster lol)

Dear Suami,
Semoga kamu tidak menyesal menjadikan aku istrimu, nantinya.
Semoga kamu bahagia dengan menjadikan aku ibu dari anak anakmu.
Semoga kamu beruntung mengetahui aku mencintai keluargamu seperti aku mencintaimu.
Semoga kamu bangga mempercayakan seluruh urusan rumah dan anak anak kepadaku.
Dan, semoga, kamu selalu bisa membimbingku menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Dear Suami,
Diluar dari apa yang aku semogakan, tentu aku pun memiliki banyak kekurangan.
Untuk kamu, semoga kamu juga bisa menerima segala kekuranganku, hobiku yang berkeluhkesah kepadamu, mood hati yang selalu naik turun, segala kecerobohan dan keteledoran, perasaan cemburu yang membuncah dan lain lainnya.

Sayang,
Hidup denganmu adalah 3/4 kehidupan, jika Allah memberikan kita umur panjang.
Lebih lama dari hidupku bersama dengan ibuku, apalagi dengan bapakku.
Akan ada banyak hal, yang akan kita lalui, tidak semua akan indah, tentu saja.
Banyak sedihnya, banyak marahnya, banyak kecewanya, dan tentu banyak pula bahagianya :)
Tapi, semoga dengan tulisan ini,
Kamu,
Dan juga aku,
Masih bisa dan selalu ingat,
Sebuah alasan mengapa kita memulai ini semua.
Sebuah alasan mengapa kita memutuskan untuk bersama.
Sebuah alasan untuk menyatukan, dari satu menjadi dua. Dari kecil menjadi besar. Dari muda menjadi tua.
Dan,
Dari ego masing masing, melebur menjadi mengalah untuk bersama.

Suamiku sayang,
Disini jam 15.47, Hari Jumat, 28 September 2018.
Masih berapa tahun lagi kamu akan membaca posting ini? haha.
Aku sudah menantinya, untuk bangun dan menyambut pagi mu, menyiapkan sarapan, dan berbagi cerita denganmu.
tapi tidak, aku tidak mengharapkan secepat itu.
Saat ini, mungkin seperti ini lebih baik.
Ada beberapa hal yang masih harus aku kejar, sebelum aku menjadi seorang istri.

Sayang,
Siapapun kamu.
Semoga, saat kamu membaca posting ini,
Aku sudah menjadi orang yang tepat untuk mendampingimu.

Bebanmu berat, menanggung aku yang berat ini, haha..
Tapi percayalah, doaku akan menjadi berkah disetiap harimu.
Dan tentu, semua doaku, tidak harus kau minta, itu sudah ada di langit, terurai setiap harinya.

Sayang,
Semoga, kamu masih mencintaiku, dan semakin mencintaiku, setelah ini..
Semoga kita hidup bahagia :)



Jakarta,
Istrimu,

Dea Andhini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

New part of what is called as Life

There comes a moment.. I've been struggling a lot, since Jun 2019.. I've been changing into someone different, far from the wor...