High School Story
Finally, setelah 3 posting tidak berfaedah lainnya, posting selanjutnya selain curhatan adalah posting mengenai perjalanan hidup (?) akan di mulai dari cerita awal masuk SMA sampai cerita saat ini yang baru hampir 2 tahun kerja di perusahaan yang ketiga (detail story jadi kutu loncat yang ga maksud jadi kutu loncat). Mulai dari kehidupan SMA ter-minder karena temen temen yang super duper otaknya ga bisa dikejar sampe kehidupan anak Kost di Jakarta. LOL.
Well let's wrap it up!
(Walo sesungguhnya blog ini dibuat untuk jadi diary online, dan gada maksud dibaca para makhluk hidup, tapi mungkin bermanfaat untuk adek adek di luar sana, ceilah sok tua)
----
Throw Back to 2009,
Dea Andhini, asli Malang, Jawa Timur yang terkenal sebagai kota pendidikan dan dingin dan apel dan sejuk dan sekarang panas dan terkenal sebagai kota yang sangat tepat untuk menghabiskan hari tua :) Dea Andhini anak terakhir dari 3 bersaudara yang semuanya cewek, dan yang paling jelas kesayangan bapak karena anak bontot kali ya.
Nah, ini ceritanya diawali dengan cerita masa kecil dulu dikit gitu biar nyambung, haha.
Dari SD, emang uda termasuk jadi cewek yang doyang "ngomong" alias cerewet.
Well, mungkin karena dirumah mayoritas cewek ya, haha.
Sejak SD, aku uda sering ikut lomba lomba semacam pidato, bahasa indo, jawa, inggris. Dilanjut masuk SMP tetap berkutat dengan lomba pidato, story telling, mendongeng, olimpiade fisika, dan siswi teladan.
Dulu waktu SD dan SMP, jujur emang merasa congkak, karena buat dapetin nilai bagus dan aktif disana sini bukan sebuah hal yang susah kala itu. Kalo bahasa anak jaman sekarang, wagelaseh lu sombong amat (nah gitu).
Sampai di suatu waktu, di kelas 2 SMP, dea dapet musibah harus kehilangan bapak karena sakit, yang ga pernah disangka sangka akan secepat itu. (karena saat itu bapak masih umur 53 tahun).
Nah, tidak untuk menceritakan yang sedih sedih nih, long story short, menginjak kelas 3 SMP, dengan kondisi kakak pertama baru menikah dan baru punya anak, kakak kedua masih kuliah, dan dengan pendapatan mengandalkan cucian mobil sebelah rumah, Alhamdulillahnya dea kepilih jadi salah satu kandidat penerima beasiswa Sampoerna Academy dari SMP Dea berdasarkan urutan ranking dan nilai gitu deh. Ga pikir panjang saat itu, dan ga ngarep juga, cuma dijalanin aja gitu proses prosesnya, Alhamdulillah eh lolos juga.
Waktu itu, Program beasiswa Sampoerna Academy ini diperuntukkan untuk siswa SMP yang akan melanjutkan ke jenjang SMA. Program pertamanya ya baru di tahun 2009 itu dan Dea beserta 149 penerima beasiswa lainnya dari Jawa Timur bisa di bilang adalah kelinci percobaan, hehe.
Tahapan tes pertama seinget Dea uda cukup rumit untuk dijalani oleh bocah SMP umur 15 tahun, yaitu mengisi form administrasi seinget dea sekitar 9-10 lembar, ada data diri data keluarga, data prestasi, ada essay juga, dua essay satu inggris satu indo kalo ga salah. Selesai diisi, saat itu dibantu juga sama guru guru di SMP (ini emang jasa para guru itu luar biasa :')), di submit lah, dikirim ke tim recruitment nya. Dapet beberapa minggu kalo ga salah, deg deg deg, ada pengumuman lolos tahap administrasi buka dari website, alhamdulillah, ada namanya gitu :')
Lalu Tahap kedua terbagi menjadi dua hari. Di hari pertama ada psikotes, tes akademik, TPA. Di hari kedua dilanjut dengan FGD dan panel interview. Disitu Dea selaku bocah smp sudah dihadapkan dengan bejibun rentetan psikotes yang sudah semacam tes kerja itu (ada gambar pohon dan orang, ada deret aritmatika, ada krapelin juga, intinya tesnya seharian), hari pertama sesungguhnya sudah pesimis, hahaha. Dilanjut di hari kedua FGD dengan temen temen yang beberapa uda kenalan dari hari sebelumnya dan panel interview. Setelah itu hari hari berikutnya diisi dengan pasrah dan doa haha.
Singkatnya (padahal itu uda panjang), alhamdulillah Dea lolos menjadi penerima beasiswa full 3 tahun dari Sampoerna Academy ini. (huhu teeelharuu), tentunya berkat doa Ibu, dan memang Allah itu selalu memiliki rencana terbaik dibalik kesedihan dan kesulitan yang kita hadapi.
Next, lanjut di masa SMA, disini dea banyak disadarkan bahwa "Diatas langit masih ada langit".
Ketemu temen temen yang super luar biasa, kalo dea lomba tingkat kota aja uda bangga setengah mampus, ini pada uda tingkat provinsi dan nasional. Otomatis dong minder parah, hahaha. Kalo di kelas duduk paling belakang, ngerusuhin kelas (tapi tetep belajar kok, tapi tetep aja ga kekejar wkwk), dan termasuk yang urakan gitu kali ya. Saat itu belum berhijab, dan yaaah, secara tidak langsung mengalami yang namanya demotivasi. Belajarnya pake banget tapi emang kerasa banget ditengah tengah temen temen yang luar biasa, banyak belajar dari mereka dengan background keluarga yang luar biasa pula.
Walau masa masa SMA dalam hal akademik agak sedikit kelam (HAHAHA kelam mah kelam aja coy, pake AGAK segala wkwk), tapi disini dea merasa banyak berkembang dalam masalah interpersonal skills. Kemampuan diri secara soft dan hard skills, attitude, dan leadership sangat terdevelop selama 3 tahun dea tinggal di asrama bersama dengan 149 orang yang luar biasa, di support dengan guru guru yang luar biasa pula.
Disini dea belajar cara menghargai orang, belajar bahwa sukses itu bukan karena diri sendiri saja, tapi karena campur tangan banyak orang, dan tentu saja Tuhan :)
Walau ga perform sebaik temen-temen yang lain, tapi kesempatan menjadi bagian dari penerima beasiswa Sampoerna Academy ini sudak membentuk karakter dea andhini menjadi seseorang yang bisa lebih menghargai sekitar dan berempati.
Hehe
---
Untuk cara pembelajarannya, memang mata pelajaran inti dibawakan dalam pelajaran bahasa inggris (ini juga kali ya yg bikin dea susah ngejar materinya, hahaha), selain itu, masih inget banget di tahun pertama dan kedua, di beberapa mata pelajaran tertentu, kami tidak mempelajari KTSP (kurikulum indo saat itu), hanya 15% dari seluruh materi KTSP kelas satu dan kelas dua yang kami pelajari, sisanya kami mengambil mata pelajaran internasional under IGCSE by Cambridge University gitu deh. Jadi kebayang di kelas 3 SMA dengan diriku ngambil penjurusan IPA nih, kami ngebut sekitar 9 bulanan aja buat belajar KTSP yang seharusnya dipelajari selama 3 tahun :'' ini paling sedihnya.
Terus buat apa dong sertifikat internasionalnya? Nah, seinget dea dulu nih, Sampoerna Academy sebenernya pengen 150 penerima beasiswa nya ini berangkat kuliah di Amerika semua gitu deh, tapi kan ya karena donatur yang kita terima ga sebanyak itu juga cuy, dan otak otak macem uwe gini ga akan sanggup juga nih S1 di amiriki hahaha, alhasil kami juga harus tetep comply dengan peraturan pemerintah juga kan dengan lulus ujian nasional, maka dari itu lah (belibet amat nih dea ceritanya) kami tetep ngejar KTSP (T________T)
...
Hmm, Apalagi yah...overall itu sih, pengalaman di SD dan SMP yang bisa ngebawa dea sampe masuk dan beruntung menjadi bagian dari Sampoerna Academy. Dan di dalamnya, Allah sudah memperlihatkan ke Dea dan sudah banyak membantu dea untuk menjadi pribadi yang lebih baik :)
---
All in All,
Dari kisah SMA ini, satu hal yang selalu menjadi catatan di setiap Dea mengambil langkah atau keputusan selanjutnya, yaitu:
"You never know when you never try. In trying you need to be brave. To be brave and eager you need to believe in yourself. Take every chance, they never come twice"
Best of Luck!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar